Tampilkan postingan dengan label STU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label STU. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Desember 2014

TEQUINOL

 Fungsi Obat TEQUINOL

KOMPOSISI :
Tiap kaplet salut selaput mengandung :
Ciprofloxacin HCl setara dengan Ciprofloxacin 500 mg.

CARA KERJA OBAT :
Ciprofloxacin merupakan antibiotik golongan fluoroquinolone, bekerja dengan cara mempengaruhi enzim DNA gyrase bakteri.
Ciprofloxacin merupakan antibiotik untuk bakteri negatif dan gram positif yang sensitif.
Bakteri gram positif yang sensitif : Enterococcus faecalis, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus pyogenes.
Bakteri gram negatif yang sensitif : Campylobacter jejuni, Citrobacter diversus, Citrobacter freundii, Enterobacter cloacae, Escherichia coli, Haemophillus influenzae, Klebsiella pneumoniae, Morganella morganii, Neisseria gonorrheae, Proteus mirabilis, Proteus vulgaris, Providencia rettgeri, Providencia stuartii, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi, Serratia marcescens, Shigella flexneri, Shigella sonnei.

INDIKASI :
Untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif terhadap Ciprofloxacin seperti :

  • Infeksi saluran kemih termasuk prostatitis.
  • Uretritis dan servisitis gonorrheae.
  • Infeksi saluran cerna, termasuk demam tifoid yang disebabkan oleh S. typhi. Khasiat Ciprofloxacin untuk eradikasi "chronic typhoid carrier" belum diketahui.
  • Infeksi saluran nafas, kecuali pneumonia akibat Streptococcus.
  • Infeksi kulit dan jaringan lunak.
  • Infeksi tulang dan sendi.
KONTRAINDIKASI :
- Penderita yang hipersensitif terhadap Ciprofloxacin atau antibiotik derivat quinolone lainnya.
- Wanita hamil dan menyusui.
- Anak-anak dibawah usia 12 tahun.

EFEK SAMPING :
  • Efek terhadap saluran cerna; Mual, muntah, diare, gangguan pencernaan, dispepsia, nyeri abdomen, flatulensi, anoreksia, disfagia. Kalau terjadi diare berat atau persisten selama atau sesudah pengobatan, segera konsultasi pada dokter karena gejala tersebut mungkin menutupi kelainan yang lebih serius (kolitis pseudomembranosa) yang memerlukan tindakan segera. Kalau ini terjadi, pemberian Ciprofloxacin harus segera dihentikan dan diganti dengan obat lain yang lebih sesuai (misalnya Vancomycin peroral 4 x 250 mg sehari). Obat- obat yang menghambat peristaltik merupakan kontraindikasi.
  • Efek terhadap sistem saraf; Pusing, sakit kepala, rasa letih, insomnia, agitasi, tremor, sangat jarang : paralgesia perifer, berkeringat, kejang, ansietas, mimpi buruk, konfusi, depresi, halusinasi, gangguan pengecapan dan penciuman, gangguan penglihatan (misal penglihatan ganda, warna-warni). Reaksi kadang-kadang timbul setelah pemberian Ciprofloxacin untuk pertama kalinya. Dalam hal ini Ciprofloxacin harus segera dihentikan dan segera konsultasi pada dokter.
  • Reaksi hipersensitivitas; Reaksi kulit seperti kemerahan pada kulit, pruritus, drug fever, reaksi anafilaktik/ anafilaktoid (seperti edema pada wajah, vaskuler dan larynx, dispnea yang bertambah berat sehingga terjadi syok yang mengancam jiwa). Dalam hal ini Ciprofloxacin segera dihentikan, tindakan kedaruratan medis (misalnya mengatasi syok) harus segera dilakukan.
  • Efek terhadap renal/ urogenital; Nefritis interstisial, gagal ginjal, termasuk gagal ginjal yang transien, poliuria, retensi urine, pendarahan uretra, vaginitis dan asidosis.
  • Efek terhadap hati;  Hepatitis, sangat jarang : kelainan hati yang luas seperti nekrosis hati.
  • Efek terhadap sistem kardiovaskuler; Jarang : takikardia, palpitasi, flutter atrium, ventricular ectopi, sinkope, hipertensi, angina pektoris, infark miokardium, cardiopulmonary arrest, cerebral thrombosis, wajah merah dan panas, migren, pingsan.
  • Lain-lain; Jarang : nyeri sendi, lemas seluruh tubuh, nyeri otot, tendovaginitis, fotosensitivitas ringan, tinnitus, gangguan pendengaran terutama untuk frekwensi tinggi, epistaksis, laringeal atau pulmonary edema, hemoptysis, dyspnea, spasme bronkus, emboli paru.
  • Efek pada darah; Eosinofilia, lekositopenia, lekositosis, anemia, granulositopenia. Sangat jarang :

SPIRADAN

Fungsi Obat SPIRADAN

Indikasi:
Spiradan efektif untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh kuman gram positif terutama infeksi oleh Staphylococcus pyogenes (termasuk yang menghasilkan pinisilinase), pneumokokus dan streptokokus pada saluran pernafasan, telinga tengah, kulit maupun infeksi/abses pada gigi.
Spiradan juga efektif untuk gonore dan non gonokokaluretritis.

Kontra Indikasi:
Penderita yang hipersensitif terhadap antibiotika golongan makrolid.

Komposisi:
Tiap tablet salut selaput mengandung spiramisin 500 mg.

Farmakologi:
Spiramisin tergolong dalam antibiotik makrolid, aktif terhadap kuman gram positif dan beberapa kuman gram negatif seperti N. gonorrhoeae dan H. influenzae.
Keunggulan spiramisin, kadar dalam jaringan masih tetap tinggi meskipun kadarnya dalam darah turun.

Peringatan dan Perhatian:
Hati-hati bila digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi hati dan pemakaian selama kehamilan trisemester 1.

Efek Samping:
Reaksi ringan berupa mual, muntah dan diare bisa timbul akibat pemberian dosis tinggi.
Rasa tidak enak pada epigastrik dan abdominal.
Kelainan ringan pada kulit.

Dosis:
Dewasa: 3 kali 1 tablet (500 mg) selama 5 hari.
Anak-anak: 50 mg/kg berat badan/hari (setara dengan 150.000 IU) dibagi dalam 2 - 4 dosis selama 5 hari

SPIRAMYCIN

Fungsi Obat Spiramycin

Indikasi:
Spiramisin digunakan untuk infeksi saluran nafas, seperti tonsilitis, faringitis, bronkitis, pneumonia, sinusitis, otitis media dan toksoplasmosis.


Kontra Indikasi:
Pasien dengan riwayat hipersensitif terhadap spiramisin atau antibiotik makrolida lainnya.

Komposisi:
Tiap tablet salut selaput mengandung:
Spiramisin 500 mg

Cara kerja obat:
Spiramisin adalah antibiotik makrolida yang dihasilkan oleh Streptomyces ambofaciens yang bekerja dengan cara menghambat sintesa protein bakteri.
Spiramisin efektif terhadap kuman stafilokokus, streptokokus, pneumokokus, Bordetella pertusis.

Posologi:
Dewasa:
500 mg, 3 x sehari selama 5 hari. Pada infeksi berat, dosis dapat ditingkatkan sampai maksimal 3000 mg/hari.
Anak-anak:
Sehari 50-100 mg/kg berat badan terbagi dalam 2-3 dosis.

Peringatan dan Perhatian:

  • Spiramisin harus diberikan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan hati karena dapat menyebabkan hepatotoksik.

  • Spiramisin tidak dianjurkan untuk ibu menyusui dan pada trimester pertama kehamilan.

  • Hati-hati penggunaan pada penderita gangguan fungsi ginjal.

  • Keamanan penggunaan pada bayi dan neonatus belum diketahui dengan pasti.

Efek samping:
Efek samping yang serius dari spiramisin sangat jarang
Mual, muntah, diare, nyeri epigastrik, ruam kulit dan urtikaria adalah efek samping yang biasanya muncul pada pemberian oral.

Interaksi obat:
Efek hepatotoksis dipertinggi oleh tetrasiklin.
Spiramisin bersifat antagonis dengan penisilin, streptomisin, kanamisin, neomisin dan polimiksin.

Penyimpanan:
Simpan di tempat kering, pada suhu di bawah 30�C, terlindung dari cahaya.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

SANTIBI 500

Fungsi Obat SANTIBI 500

Indikasi
Tuberkulosis paru

Kontra Indikasi
Etambutol : neuritis optik. Isonicotine hydrazine : penyakit hati karena obat

Efek Samping
Etambutol : Neuritis retrobulbar dengan penurunan ketajaman penglihatan, skotoma sentralis, buta warna hijau � merah. Hiperurisemi. isonicotine hydrazine : neuropati perifer. Kerusakan hati. Gangguan darah. Pellaga

Dosis
Terapi awal : 15 mg/kg BB/hari. Terapi ulang : 25 mg/kg BB/hari selama 60 hari. Kemudian 25 mg/kg BB/hari

SANTIBI PLUS

Fungsi Obat Santibi Plus Tablet

Tiap tablet mengandung:

Etambutol HCl                                                   250mg
Isoniazida (INH)100mg
Piridoksin HCl6mg

FARMAKOLOGI
Etambutol merupakan tuberkulostatik dengan mekanisme kerja menghambat sintesa RNA. Etambutol diabsorpsi dengan cepat pada pemberian oral. Sebagian besar diekskresi melalui ginjal dalam bentuk aktif dan lebih kurang 10% diubah menjadi metabolit yang tidak aktif.
Etambutol tidak menembus selaput otak yang sehat tetapi pada penderita meningitis tuberkulosa dapat ditemukan kedar terapeutik dalam cairan serebrospinal.
INH secara in vitro mempunyai sifat bakterisidal maupun bakteriostatik. Tetapi in vivo hanya bersifat bakteriostatik. Mekanisme kerja INH terhadap bakteri ekstra dan intraseluler belum diketahui dengan pasti, diduga mekanisme kerja yang utama adalah menghambat biosintesa asam mikolat pada dinding sel mikobakterium.
INH menyebabkan hilangnya sifat tahan asam pada mikobakterium yang peka.
Piridoksin HCl untuk mencegah neuritis perifer yang disebabkan pemakaian Isoniazida.

INDIKASI
SANTIBI PLUS� diindikasikan untuk pengobatan permulaan dan pengobatan ulang pada tuberkulosa dan pencegahan pada tuberkulosa tidak aktif.


KONTRA-INDIKASI
  • Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal, epilepsi, alkoholisme kronik dan kerusakan hati.
  • Neuritis optik.
  • Hipersensitif terhadap salah satu komponen dalam SANTIBI PLUS� 

EFEK SAMPING
Etambutol:
-Efek samping yang perlu diperhatikan adalah toksisitas okular yang berhubungan dengan dosis dan lamanya pengobatan.
Menurut laporan pada dosis 25 mg/kg BB/hari selama 2 bulan diikuti dengan 15 mg/kg BB/hari, angka kejadian efek samping tersebut adalah 0,8%.
-Pada umumnya perubahan visual reversibel dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, tetapi jarang sampai lebih dari 1 tahun atau irreversibel.
Neuritis retrobulbar bilateral dapat terjadi dengan gejala: 

-Terjadi penurunan ketajaman penglihatan.

-Kehilangan kemampuan membedakan warna.

-Penyempitan lapang pandangan.

-Skotomata sentral dan perifer.
-Efek samping lain yang dilaporkan:
Reaksi anafilaktoid, pruritus, dermatitis, anoreksia, nyeri abdomen, demam, nyeri sendi, gangguan gastrointestinal (mual, muntah), malaise, sakit kepala, pusing, gelisah, disorientasi, halusinasi.
-Walaupun jarang ditemukan, dapat timbul mati rasa dan kesemutan pada ekstremitas yang disebabkan oleh neuritis perifer.
INH:
-Neuritis perifer, neuritis optik yang biasanya reversibel, optik neuropati, konvulsi.
-Peningkatan transaminase serum, bilirubinemia, ikterus dan kadang-kadang hepatitis.
-Sindroma rematik dan sindroma yang menyerupai lupus eritematosus sistemik (SLE).
-Reaksi hipersensitif.
-Gangguan gastrointestinal.

PERHATIAN
  • SANTIBI PLUS� tidak dianjurkan untuk anak-anak di bawah usia 13 tahun.
  • Sebelum pengobatan dianjurkan untuk memeriksakan mata terlebih dahulu.
  • Apabila terjadi perubahan ketajaman visual harus segera ke dokter.
  • Pemberian harus segera dihentikan, apabila terjadi gangguan penglihatan.
  • Pada penderita dengan gangguan visual seperti katarak, peradangan mata yang berulang, neuritis optik, retinopati diabetik, evaluasi perubahan ketajaman visual lebih sulit dilakukan.
  • Harus hati-hati dalam menentukan bahwa perubahan penglihatan bukan disebabkan oleh penyakit yang diderita. Pada penderita ini harus dipertimbangkan antara keuntungan pemakaian Etambutol dengan kemungkinan terjadinya efek samping
  • Pada pengobatan jangka panjang pemeriksaan fungsi organ harus dilakukan secara periodik termasuk ginjal, hati, hematopoetik.
  • Data-data yang menunjang keamanan pemakaian Etambutol pada wanita hamil dan menyusui belum mencukupi.
  • Agar dihindarkan pemakaian bersama alkohol, karena akan meningkatkan efek hepatotoksik dari INH.

INTERAKSI OBAT
INH dapat menurunkan ekskresi fenitoin sehingga kadar dalam darah meningkat.


DOSIS
Dosis SANTIBI PLUS� ditentukan berdasarkan berat badan.
  • Pengobatan pertama dan pencegahan: Pemberian dosis tunggal Etambutol 15 mg/kg berat badan/ hari dan INH 300 mg/hari. 
  • Pengobatan ulang selama 60 hari pertama: Pemberian dosis tunggal Etambutol 25 mg/kg berat badan/ hari dan INH 300 mg/hari. 
SANTIBI PLUS� sebaiknya diberikan dalam keadaan perut kosong.